Lompat ke konten

Islam dan Nasionalisme (dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 1976 – 2005

Islam dan identitas orang Aceh selalu terjalin berkelindan. Selama periode kolonial Belanda, perlawanan Aceh dilancarkan di bawah bendera Islam. Bendera ini kembali dikibarkan pada tahun 1950-an ketika Aceh bergabung dengan pemberontakan Darul Islam (DI) yang bertujuan mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Dipimpin oleh ulama karismatik Teungku Daud Beureueh, para pejuang Darul Islam Aceh mengobarkan perang melawan Jakarta setelah pemerintah pusat mengingkari janji memberikan otonomi bagi Aceh, menghapus syariat Islamnya, dan menggabungkan Aceh dengan provinsi tetangga Sumatra Utara. Beureu’eh memandang keputusan Jakarta itu sebagai pe­­nundukan martabat rakyat Aceh kepada daerah lain yang sama sekali berbeda agama dan budayanya.
Tiga belas tahun setelah kekalahan gerakan Darul Islam di Aceh, GAM muncul pada tahun 1976. GAM melakukan perombakan signifikan dalam ideologi politik. Walaupun dukungan awalnya bertumpu pada banyak pejuang Darul Islam dan pendiri GAM, Hasan di Tiro, sendiri menyokong pemberontakan Darul Islam, ideologi GAM menjadi prototipe nasionalisme Aceh.
Disertasi ini akan menelaah peran Islam dalam na­­sionalisme Aceh sebagaimana dirumuskan oleh pendiri GAM Hasan di Tiro. Fokus disertasi ini ter­arah pada upaya-upaya Tiro mengangkat tema-tema kunci dengan menghidupkan kembali patriotisme Aceh, dan bagaimana dia berurusan dengan Islam. Akan dibahas juga bagaimana ideologi GAM diterjemahkan ke dalam praktik, khususnya berkenaan dengan politik internasional dan perjuangan bersenjatanya.

Posting artikel terkait

Mengurai Sejarah Konflik Maluku Utara

Mengurai Sejarah Konflik Maluku Utara Resensi “Jangan Percaya Surat Palsu” oleh Linda Christanty Buku “Jangan Percaya Surat Palsu: Laporan Jurnalistik tentang Konflik di Maluku Utara,

Empat Setengah Jam di Punika

Bang Nezar Patria, menceritakan kembali hal-hal di balik tulisan yang menjadi salah satu yang paling sering diingat: Sejarah Mati di Kampung Kami. Ditulis delapan belas tahun lalu, saat ia masih wartawan muda. Saat itu, ia ditugaskan meliput kampung halaman pasca tsunami. Suasana dan aroma yang dirasakan di kampung halaman, melahirkan salah satu tulisan yang sangat personal dan kuat. “Kata teman-teman, artikel itu kerap menjadi salah satu contoh beberapa kelas menulis features. Saya merasa tersanjung”, katanya.

Kisah Inspiratif Penyintas

Memahami sejarah untuk menata masa depan yang lebih baik adalah sebuah tindakan sadar dan strategis yang perlu dilakukan oleh sebuah bangsa yang berkehendak maju dalam

Sign up for our email newsletter